Mengenal Lebih Dekat Tentang Sejarah Dan Cara Kerja 3D Printer - All Indonesia

Mengenal Lebih Dekat Tentang Sejarah Dan Cara Kerja 3D Printer

Mengenal Lebih Dekat Tentang Sejarah Dan Cara Kerja 3D Printer

3D Printing merupakan istilah untuk berbagai metode memproses material yang dikontrol dengan komputer untuk menghasilkan obyek 3 dimensi. Material yang digunakan untuk melakukan proses cetak 3 dimensi bisa sangat beragam; mulai dari material cair hingga bahan berbentuk bubuk atau tepung yang diproses untuk menghasilkan obyek 3 dimensi yang solid. Perangkat 3D printer merupakan alat yang digunakan untuk memproses material tersebut untuk menghasilkan obyek 3 dimensi yang diinginkan. Perangkat tersebut lazim digunakan untuk keperluan membuat prototipe dengan proses yang cepat ataupun menghasilkan obyek untuk keperluan manufaktur. Obyek 3 dimensi yang dihasilkan dapat berupa bentuk tertentu atau geometri yang dihasilkan dengan printer 3 dimensi yang mengolah data berupa model digital yang dihasilkan melalui proses manufaktur.

Metode Cetak 3 Dimensi Modern

Ada beberapa metode atau teknik memproses yang digunakan oleh 3D printer yang lazim ditemui. Metode stereolithograpgy atau STL dan fused deposit modeling atau FDM menjadi 2 metode proses cetak 3 dimensi yang paling lazim ditemui. Berbeda dengan konsep membuat benda 3 dimensi pada umumnya yang mengurangi sedikit demi sedikit material dari bahan berukuran besar untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan; proses cetak 3 dimensi menghasilkan obyek yang diinginkan dengan meletakkan lapis demi lapis material untuk menghasilkan bentuk obyek yang telah dirancang dengan bantuan komputer.

Sejarah Singkat Cetak 3 Dimensi

Sejarah cetak 3 dimensi berawal dari tahun 1981 seiring dengan perkembangan teknologi komputasi. Titik awal dari perkembangan cetak 3 dimensi dilakukan oleh Hideo Kodama dari Nagoya Municipal Industrial Research Institute yang menemukan dua proses modifikasi material untuk menghasilkan model plastik 3 dimensi pada tahun 1981. Metode ini melibatkan polimer thermoset yang dipaparkan pada sinar ultraviolet untuk menghasilkan obyek 3 dimensi yang diinginkan. Sedangkan metode stereolithography baru mulai dikenal tahun 1984 dan teknologi fused deposition modeling ditemukan pada tahun 1988. Teknologi FDM inilah yang hingga kini banyak digunakan sebagai dasar proses cetak 3 dimensi dengan perangkat 3D printer masa kini. Perkembangan lebih luas dari proses cetak 3 dimensi semakin masif sejak tahun 2009 setelah paten dari Fused Deposition Modeling habis pada tahun 2009.

Prinsip Dan Mekanisme Cetak 3 Dimensi

Prinsip utama dari cetak 3 dimensi ada pada proses membuat model digital dan proses mencetak model tersebut menjadi sebuah obyek. Model obyek 3 dimensi bisa dihasilkan dengan perangkat lunak berbasis CAD atau computer aided design. Model in dapat dibuat melalui proses membuat gambar dengan perangkat photogrammetry, pemindai 3 dimensi ataupun penggunaan kamera digital biasa. Proses pembuatan model pada dasarnya adalah menghasilkan data geometris yang kemudian akan dicetak menggunakan perangkat 3D printer untuk menghasilkan obyek yang telah dirancang.

Sedangkan proses improvisasi dalam mencetak dengan 3D printer harus diawali dengan menganalisis, menemukan dan memperbaiki kesalahan data gemoteri pada model. Beberapa kesalahan atau error yang lazim ditemui berupa lubang, sambungan ataupun kesalahan perhitungan geometris pada model yang dibuat. Setelah kesalahan tersebut diperbaiki; file model ini kemudian diproses oleh perangkat lunak yang membagi obyek model menjadi lapisan berurutan yang akan diproses oleh printer. Proses mencetak lapisan demi lapisan dari model 3 dimensi yang dicetak menjadi sebuah obyek 3 dimensi bisa berlangsung beberapa menit hingga beberapa hari. Tingkat kerumitan serta ukuran menjadi dua aspek yang menentukan durasi waktu yang dibutuhkan printer untuk menghasilkan obeyk 3 dimensi yang dicetak.